KOLOM EDUKASI Tulisan tamu Perencana Keuangan
Strategi Finish Strong Di Tengah Melemahnya Rupiah

MUHAMMAD KHARISMA
Perencana Keuangan
Akhir pekan lalu, Jakarta Running Festival 2026 ramai dibicarakan karena adanya kericuhan di titik cut-off point (COP). Sejumlah pelari yang tidak berhasil mencapai batas waktu memilih menerobos pagar pembatas, bahkan ada yang diduga berusaha mengambil medali finisher meski sudah dinyatakan DNF (Did Not Finish). Banyak yang menilai, persoalannya bukan sekadar soal aturan, melainkan persiapan: latihan yang kurang, datang terlambat, hingga salah mengatur ritme sejak awal. Pelajarannya sederhana, baik dalam lari maupun keuangan, yang menentukan bukan seberapa kencang kita berangkat, tetapi apakah kita bisa ‘finish strong’.
Dan ‘lintasan’ keuangan kita saat ini sedang menanjak. Pernah merasa uang belanja bulanan makin cepat habis, padahal yang dibeli itu-itu saja? Harga roti dan mie instan naik pelan-pelan, tempe di warung langganan terasa makin tipis, dan tagihan langganan aplikasi tiba-tiba naik padahal paketnya sama. Salah satu penyebabnya ada di berita ekonomi yang sering kita lewati begitu saja: rupiah sedang melemah. Pekan ini, rupiah kembali bergerak bahkan melewati Rp18.100 per dolar AS, padahal setahun lalu masih di sekitar Rp16.600.
Lalu apa urusannya dengan kita? Ketika sebagian besar kedelai untuk tahu dan tempe, serta gandum untuk mie instan, roti, dan tepung gorengan, masih didatangkan dari luar negeri, maka ketika dolar makin mahal, biaya produsen ikut naik, dan ujungnya ada dua pilihan: harga dinaikkan atau ukurannya dikecilkan.
Belum lagi urusan gaya hidup. Gadget berupa smartphone dan laptop, langganan streaming hingga aplikasi AI, bahkan skincare favorit, semuanya bisa ikut terpengaruh. Sebagian kebutuhan dan ‘gaya hidup’ kita sebenarnya dibayar dengan dolar, sementara gaji kita tetap dalam rupiah. Ketika rupiah melemah sekitar 8% dalam setahun dan kenaikan gaji tidak secepat itu, ruang napas di dompet otomatis makin sempit.
Lalu bagaimana menyikapinya? Pertama, rapikan belanja harian dan bulanan. Belanja dengan daftar, lebih sering masak sendiri, dan manfaatkan promo seperlunya tanpa ikut-ikutan menimbun. Kedua, audit langganan. Langganan kecil yang menumpuk sering kali jadi ‘bocor halus’ yang tidak terasa. Ketiga, tunda pembelian gadget yang belum mendesak, apalagi jika harus dibiayai cicilan atau paylater hanya karena takut harganya naik lagi. Keempat, jangan ikut-ikutan ‘borong dolar’ untuk spekulasi. Kalau memang ada rencana liburan atau sekolah ke luar negeri, cicil tabungan valas sedikit demi sedikit dari jauh hari, bukan membeli sekaligus saat panik. Kelima, mulai lirik produk lokal, dari bahan pangan hingga brand dalam negeri. Banyak yang kualitasnya sudah bersaing, dan bonusnya, kita ikut menguatkan ekonomi sendiri.
Kita memang tidak bisa mengatur kurs, sama seperti pelari tidak bisa mengatur cuaca di hari lomba. Tetapi kita selalu bisa mengatur ritme. Daripada terpaksa ‘menerobos pagar’ dengan pindar atau paylater di ujung tahun, lebih baik atur langkah dari sekarang, supaya kita bisa finish strong di 2026 dan tetap bertenaga untuk berlari lagi di 2027.
Muhammad Kharisma, RFC, biasa disapa Kharis, adalah Perencana Keuangan Independen bersertifikasi IARFC, dengan perhatian pada keuangan kalangan muda produktif dan perencanaan keuangan syariah. Ia kerap mengisi pelatihan dan talkshow, serta menjadi narasumber televisi, radio, dan media. Kini ia Vice President IARFC Indonesia dan Wakil Ketua Umum (Ketua Harian) APKESINDO 2024–2027. Instagram @m.kharisma, email [email protected].
Ringkasan berita disusun dari sumber yang ditautkan. Isi Kolom Edukasi adalah pendapat penulis.