KOLOM EDUKASI Tulisan tamu Perencana Keuangan
Hati-hati, Janji Biaya Pendidikan Bisa Jadi HOAX

Eko Endarto
Perencana Keuangan
Anda mungkin pernah melihat iklan produk susu yang menggambarkan bagaimana seorang anak memimpikan cita-citanya, dari iklan tadi seolah-olah dengan meminum susu produk tersebut maka cita-cita bisa tercapai.
Ingat kapan terakhir kali kita bertanya ke junior kita besok saat besar mau jadi apa?
Terlepas dari keinginan dan harapan si anak secara pribadi, pendidikan anak di masa depan harus menjadi tanggung jawab dan kewajiban orang tua karena mereka yang menciptakan. Memiliki mimpi dan harapan baik di masa depan memang harus, tapi hati-hati, jangan sampai mimpi tadi menjadi HOAX!
Tantangan yang makin berat
Merujuk artikel dari CNBCIndonesia, biaya pendidikan di Indonesia adalah salah satu biaya yang dikategorikan tinggi kenaikannya yaitu 10-15% per tahun. Kalau merujuk data inflasi Indonesia 5 tahun terakhir yang sekitar 3% (data BPS), maka bisa dibayangkan orang tua harus mencari kekurangan pemenuhan biaya pendidikan sekitar 7%-12% lagi…
Berat? Mungkin berat, tapi bukan berarti ngga bisa. Asalkan kita tahu cara dan strateginya.
Agar ngga jadi HOAX
Pengeluaran pendidikan adalah pengeluaran yang pasti sudah bisa diperkirakan bahkan sejak anak belum dilahirkan, karena kita sudah bisa tau kapan lahir, kapan masuk taman bermain, sekolah dasar dan seterusnya. Di sisi lain ada kendaraan yang bisa membantunya yang disebut produk investasi. Nah kombinasi keduanya membantu kita membuat pendidikan anak tidak menjadi HOAX.
1. Mulai sedini mungkin. Kekuatan investasi selain hasil adalah waktu. Dengan makin banyak waktu, makin kecil risiko hasil tidak sesuai target. Jadi kalau Anda sudah tau akan punya anak, memulai rekening investasi sebelum dia lahir bukan hal yang salah.
2. Komitmen dan Rutin. Ini yang kayanya mudah tapi sebenarnya paling sulit. Menyisihkan secara rutin dan tidak mengganggu rekening dengan hal-hal di luar tujuannya.
3. Lindungi dengan proteksi. Niat baik harus dibarengi dengan pengelolaan risiko, kita tau tujuan kita, kita tau strateginya tapi kita ngga tau apakah ada risiko di luar rencana yang bisa menghalangi. Maka proteksi adalah jawabannya. Kalau ada risiko, tujuan tetap bisa dicapai karena risiko tadi dialihkan ke pihak lain.
So, jangan hanya berkata “dek, besok kalau besar jadi dokter ya”, tapi pastikan hal itu bisa terwujud.
Eko Endarto adalah seorang Perencana Keuangan Independen bersertifikasi RFC (Registered Financial Consultant) yang telah berpengalaman sekitar 20 tahun di industri perencanaan keuangan Indonesia. Ia juga seorang penulis buku keuangan dan telah banyak memberikan pelatihan dengan topik-topik persiapan pensiun, di mana buku terakhirnya berjudul ‘Pensiun Revolution’. Selain memberikan pelatihan, ia juga menjadi anggota Dewan Etik di IARFC Indonesia. Anda bisa menghubungi Eko Endarto di [email protected] atau Instagram @ekoendarto.
Ringkasan berita disusun dari sumber yang ditautkan. Isi Kolom Edukasi adalah pendapat penulis.